Giliyang, si Pulau Oksigen. Pulau dengan Udara Terbersih di Dunia

Giliyang, si Pulau Oksigen. Pulau dengan Udara Terbersih di Dunia
Giliyang, si Pulau Oksigen. Pulau dengan Udara Terbersih di Dunia /Indonesia.go.id

HALOBDG.com – AirVisual telah merilis data pada 2019 bahwa Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.

Tingkat polusi di ibu kota Indonesia ini lebih buruk dari Lahore (Pakistan) dan Hanoi (Vietnam), yang masing-masing berada di peringkat dua dan tiga.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi udara di Pulau Giliyang. Gili Iyang atau yang dikenal dengan Giliyang, terletak di Dongkek, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pulau yang dijuluki sebagai Pulau Oksigen yang memiliki luas 9,15 km2 didiami oleh 7.832 jiwa yang menghuni dua desa, yakni Bancamara dan Banraas.

Untuk mencapai Pulau Oksigen itu kita bisa menumpang taksi laut, sebutan masyarakat Dungkek untuk moda transportasi perahu kayu bermesin.

Waktu tempuh menuju Gili Iyang sekitar 30-40 menit, bergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang.

Kita bisa naik taksi laut dari Pelabuhan Penyeberangan Dungkek yang baru dioperasikan awal 2021. Pelabuhan ini dapat ditempuh sekitar 30 kilometer dari pusat kota Sumenep.

Ongkos taksi laut sebesar Rp10 ribu per orang untuk menumpang perahu berkapasitas antara 20-50 orang bergantung ukuran angkutannya.

Jarak antara Pelabuhan Dungkek dan Gili Iyang adalah sekitar sembilan kilometer yang dipisahkan oleh Laut Jawa.

Gili Iyang memiliki dua dermaga yaitu di Pantai Ropet, Desa Banraas di ujung timur pulau yang dikhususkan bagi perahu nelayan.

Satu lagi, dermaga penumpang di Desa Bancamara, di ujung barat pulau.

Begitu mendaratkan kaki di Gili Iyang jangan harap bisa langsung menemukan moda transportasi roda empat.

Di sini moda transportasi untuk berkeliling pulau dengan pantai berpasir putih ini hanya ada ojek motor roda dua dan roda tiga yang disebut dengan odong-odong atau dorkas.

Motor dan dorkas tadi melintas di atas jalan selebar dua meter berpermukaan paving block mengelilingi pulau sepanjang 10 kilometer.

Jalan ini dibangun Pemerintah Kabupaten Sumenep pada 2015 sebagai persiapan menjadikan Gili Iyang destinasi wisata baru andalan kabupaten dan provinsi.

Selain itu, sejak November 2017 PT Perusahaan Listrik Negara juga telah memasang pembangkit listrik berkekuatan 3×500 kilowatt.

Ini untuk membantu menerangi Pulau Oksigen yang selama puluhan tahun mengandalkan pembangkit swadaya berupa ribuan generator set yang dipasang sendiri oleh warga.

Kadar Oksigen Terbaik

Keputusan menjadikan Gili Iyang sebagai objek wisata bukan tanpa alasan. Ini bermula dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Antariksa Nasional (Lapan) pada 2006 mengenai kualitas udara di pulau tersebut. Lapan menyebutkan, dari 17 titik yang diuji, kadar oksigen di Gili Iyang adalah sebesar 20,9 persen.

Artinya di dalam volume 1 liter udara bebas terkandung 0,209 liter oksigen. Persentase ini lebih baik dari kondisi udara daerah-daerah lain di Indonesia.

Terlebih lagi di pulau ini nilai kandungan zat-zat pencemar udara seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, atau sulfur dioksida adalah sangat rendah.

Oksigen memang gas yang sangat vital dibutuhkan tubuh. Asupan oksigen ini didapat melalui sistem pernapasan.

Oksigen dibutuhkan untuk membakar zat makanan atau cadangan makanan untuk memperoleh energi bagi kehidupan semua sel tubuh.

Kebutuhan akan oksigen ini harus dalam kadar yang tepat, tidak boleh kurang juga tidak boleh berlebih.

Kadar oksigen normal yang ditolerir untuk mencukupi kebutuhan pernapasan adalah dalam batas antara 19,5–22,0 persen.

Kadar oksigen yang kurang dari 19,5 persen akan menyebabkan kekurangan oksigen yang disebut hipoksia.

Dampak kekurangan oksigen dari yang ringan seperti lemah dan pusing, sampai yang berat seperti menyebabkan koma bahkan kematian.

Sehingga bisa dikatakan kualitas udara di Gili Iyang sangat bersih. Menurut peneliti pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan, Sumaryati di dalam Kajian Potensi Wisata Kesehatan Oksigen di Gili Iyang menyebutkan bahwa ada faktor lain yang menyebabkan kualitas udaranya sangat bagus.

“Udara di Gili Iyang merupakan udara yang berasal dari laut yang kemungkinan banyak mengandung aerosol garam, terutama magnesium sulfat atau dikenal dengan nama garam epsom,” tulis Sumaryati dalam kajiannya.

Banyak manfaat dari penggunaan garam epsom di luar tubuh untuk kesehatan dan kesegaran kulit.

Juga pengobatan seperti pre-eklampsia dan eklampsia yang dialami ibu hamil. Juga bisa menjadi tindakan medis awal untuk pasien yang terkena serangan stroke.

Temuan tadi diperkuat oleh riset lanjutan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Bappeda Kabupaten Sumenep pada 2011 yang menyebutkan kualitas oksigen sebesar 20,9 persen terjadi di waktu-waktu tertentu, utamanya pada bulan Februari.

Selain itu didapati pula bukti bahwa kandungan karbon dioksida di Gili Iyang tak lebih dari 26,5 persen dengan tingkat kebisingan hanya 36,5 desibel.

Air Visual, sebuah aplikasi pencatat kualitas udara kemudian menempatkan Air Quality Index (AQI) Gili Iyang hanya satu tingkat di bawah kadar oksigen di Laut Mati, Jordania. Kedua daerah ini kemudian dinobatkan sebagai daerah dengan kadar oksigen terbaik di dunia.

Di Gili Iyang, tempat untuk menikmati oksigen terbaik ada di Titik Oksigen di Desa Bancamara, yang letaknya sekitar 10 menit berkendara dari dermaga.

Penandanya mudah saja karena terdapat pelang “Titik Oksigen” yang menunjuk ke sebuah lahan berpagar bambu dengan luas tak lebih dari 200 meter persegi. Ketika masuk kita diminta mengisi buku tamu dan membayar semacam retribusi kas desa seikhlasnya.

Ada sekitar 10 gazebo untuk sekadar duduk dan beristirahat sambil menikmati kesegaran udara serta sudah disediakan bangunan toilet yang cukup bersih.

Oh iya, karena kualitas udara bersihnya yang hadir sepanjang masa tersebut, membuat harapan hidup warganya juga ikut terjaga.

Di pulau ini tak sulit menjumpai warga yang telah berusia di atas 90 tahun bahkan 100 tahun dalam kondisi tubuh masih segar bugar dan tidak mengalami gangguan penglihatan, misalnya.

Mereka masih berkegiatan seperti biasa seperti pergi ke ladang atau beribadah ke musala atau masjid terdekat.

 

Gua Mahakarya

Pulau ini tak hanya berkisah mengenai kehebatannya menghadirkan kualitas udara bersih dengan kadar oksigen bagus saja.

Tetapi terdapat sejumlah objek wisata yang tak kalah serunya di sekitar pulau. Misalnya Batu Cangga, sebuah pahatan alam di sekitar tebing karang tajam dan curam menghadap Laut Jawa.

Rutenya tepat menyusuri jalan di samping lahan “Titik Oksigen” dengan kontur lahan kering khas tanah grumusol yang terbentuk dari batuan induk kapur dan tuffa vulkanik berwarna kelabu dan cenderung sedikit hitam.

Batu Cangga atau dalam bahasa setempat artinya batu yang menyangga tebing merupakan objek wisata alam berbentuk rongga mirip lorong yang terbentuk secara alami kemudian disangga oleh beberapa batu karang mirip seperti pilar-pilar besar pada bangunan rumah.

Perlu sedikit perjuangan untuk sampai di Batu Cangga karena kita harus melewati titian tangga dari bambu yang bila tidak hati-hati maka akan terperosok ke bawah tebing dan tercebur ke birunya air laut.

Saat berdiri di Batu Cangga ini, telinga kita akan mendengar dengan jelas deburan ombak menghantam tepian tebing di bawah kaki kita diiringi terpaan angin kencang. Sejauh mata memandang hanya air laut yang terlihat.

Tak hanya Batu Cangga, karena masih terdapat objek wisata lainnya seperti Gua Mahakarya atau dikenal juga sebagai Gua Celeng.

Menurut pemandu wisata lokal yang bernama Ali, gua ini ditemukan pada 2014 dan menjadi satu di antara 10 gua yang terdapat di Gili Iyang, yaitu tujuh gua berada di Desa Banraas dan tiga lainnya di Desa Bancamara.

Menurut Ali, kehadiran gua-gua sebanyak itu ikut menyumbang makin bagusnya kualitas udara dan pasokan oksigen karena di deposit oksigen banyak tersimpan di dalam gua dan akan keluar pada malam hari.

Gua Mahakarya semula merupakan tempat persembunyian hewan celeng atau babi hutan. Kemudian oleh warga setempat dibangun pagar bambu tepat di mulut gua agar hewan liar tersebut tidak lagi masuk.

Untuk memasuki mulut gua kita harus merunduk karena tingginya kurang dari satu meter dengan panjang lorong sekitar lima meter. Punggung dan kepala lumayan pegal-pegal karena harus merunduk selama beberapa menit.

Namun semua itu terbayarkan ketika memasuki ruang pertamanya karena melihat keunikan stalagtit, bebatuan yang tumbuh dari langit-langit gua yang masih meneteskan air serta stalagmit.

Di salah satu sudut langit-langit ruang pertama ini terdapat lubang besar yang mengalirkan udara segar dan sinar mentari, mirip seperti sunroof pada mobil. Kehadiran lubang itu membantu ruangan menjadi lebih terang.

Di ruang kedua Gua Mahakarya, kita bisa melihat stalagmit seperti bersinar kelap-kelip mirip bintang-bintang di langit saat malam.

Masyarakat menamai batu-batu itu sebagai batu bintang. Sebetulnya oleh para penelusur gua, batuan itu dikenal sebagai cave pearl atau mutiara gua yang terbentuk dari bongkahan batu yang diselimuti mineral kalsit yang berasal dari tetesan air dari stalagtit.

Di sini juga terdapat stalagmit berjenis flowstone atau dikenal juga sebagai batu alir karena terbentuk dari miliaran kali tetesan air yang mengalir dan menyelubungi bongkahan batu atau tanah. Jika batu alir ini diketuk maka akan keluar bunyi-bunyian bernada khas.

Bebatuan unik juga terdapat di ruang kelima yang menjadi ruang terakhir dari Gua Mahakarya.

Meski lagi-lagi harus merunduk untuk memasukinya, namun di ruang terakhir ini kita puas mengeksplorasi keindahan gua.

Terdapat sebentuk batuan yang mirip dengan sebuah keluarga yang sedang berangkulan. Tepat di ujung ruang kelima ini kembali kita menemukan lubang besar di langit-langit gua. Sebuah pohon besar tumbuh tepat di gundukan dengan batang pohon keluar dari gua.

Ketika siang hari dan cuaca sedang terik, maka sinar mentari dapat menembus ke dalam gua melewati sela-sela batang dan daun pohon sehingga menghasilkan siluet indah berbentuk garis-garis sinar. Di sinilah spot berfoto paling tepat bagi kita yang berkunjung ke Gua Mahakarya.

Objek wisata terakhir yang bisa dikunjungi di Pulau Oksigen adalah Pantai Ropet yang terdapat spot pantai pasir putih yang cocok untuk snorkeling atau menyelam melihat terumbu karang yang masih terjaga keindahannya serta koleksi ikan hiasnya.

Sebetulnya pulau ini bisa dikelilingi dalam sehari, namun jika berminat untuk menginap supaya lebih puas mengesplorasi Pulau Oksigen, kita bisa menyewa kamar di rumah-rumah penduduk.

Tinggal bernegosiasi saja dengan pemilik rumah mengenai berapa tarif menginap semalam. Yuk, bangga berwisata di Indonesia saja.

Pulau Giliyang dijuluki Pulau Oksigen atau Oksigen Giliyang karena memiliki kadar oksigen di atas ambang batas rata-rata 20 persen, yaitu mencapai 21.5 persen. Kadar oksigen ini merupakan terbesar di Indonesia bahkan di dunia.

Hal ini berdasarkan riset dari Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) pada tahun 2006.

Selain itu juga berdasarkan penelitian dari balai lingkungan hidup (BLH) Sumenep tahun 2016. Hasilnya sama yaitu 21-21.5 persen.

Dikutip dari situs resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), diketahui ada kelompok masyarakat asal Madura yang tinggal di Pulau Giliyang.

Namun, tempat penginapan untuk wisatawan belum banyak tersedia.Untuk mencapai Giliyang, pengunjung dapat menuju ke pelabuhan Dungkek, kemudian naik perahu motor milik nelayan yang sudah banyak menunggu wisatawan di sana.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung dapat menitipkan kendaraan mereka di rumah warga yang tak jauh dari pelabuhan Dungkek. Jalan dari kabupaten Sumenep menuju pelabuhan Dungkek juga cukup mulus.

Waktu tempuh menuju pulau Giliyang, dari Dungkek membutuhkan waktu sekitar 45 sampai 60 menit dalam kondisi cuaca normal.

Setiba di Pulau Giliyang, pengunjung dapat menyewa kendaraan untuk menujuu titik oksigen terbaik di Desa Bancamara.

Selain disebut sebagai Pulau Oksigen, Giliyang juga dijuluki Pulau Awet Muda. Menurut hasil penelitian, penduduk di Pulau Giliyang berumur panjang dan awet muda.

Banyak penduduk yang sudah berusia 90-an tahun masih aktif bekerja di ladang dan juga menjadi nelayan.

So, jika kamu ingin merasakan sejuknya udara bersih di Pulau Giliyang, tidak ada salahnya jika ini menjadi salah satu pilihan.

Terlebih jika kamu tinggal di kota besar seperti Jakarta yang sangat tinggi tingkat polusinya.

 

Pos terkait